Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Syekh Ihsan Jampes, Kiai Nyentrik yang Dikenal Seantero Negeri

Tipsseo.net - Syekh Ihsan Jampes, Kiai Nyentrik yang Dikenal Seantero NegeriMenelusuri jejak tumbuhnya Islam di Kediri tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sosok Syekh Ihsan al-Jampesi. Karangan yang membesarkan nama Syekh Ihsan Jampes, kiai ini adalah Shirajut Thalibin, syarah Minhajul ‘Abidin karangan Imam al-Ghazali. Syarah atas kitab tasawuf inilah satu-satunya, sehingga tak mengherankan jika karya ini amat populer bahkan di Timur Tengah.

Melalui karangan monumental tersebut Syekh Ihsan Jampes yang miliki nama asli Muhammad Ihsan bin Dahlan Sholeh ini dikenal luas. Yakni sebagai ulama pesantren nusantara yang tidak diragukan lagi keilmuannya di bidang tasawuf. Berkat masterpiece-nya ini juga yang bahkan membuatnya digelari sebagai “al-Ghazali kecil”. Meski begitu, dikenalnya Syekh Ihsan tidak hanya karena keahliannya pada tasawuf dan ilmu lainnya, namun karena ketawadhu’-annya. simak juga tentang mengenal Gus Miek

Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik
Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik

Biografi Syekh Ihsan Jampes, Kiai Nyentrik yang Mendunia

Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik pengarang Shirajut Thalibin ini merupakan sesosok kiai yang pendiam dan tidak suka publikasi. Meski begitu, sejak muda ia telah banyak membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Tak mengherankan jika pada usianya yang belasan tahun, Syekh Ihsan muda telah menulis banyak kitab. Dan syarah atas al-Minhajul ‘Abidin menjadi salah satu mahakarya yang turut harumkan namanya serta Pesantren Jampes yang diasuh ayahnya.

Dilahirkan di lingkungan pesantren yang diasuh ayahnya, yakni KH. Dahlan bin Saleh, Syekh Ihsan dikenal sebagai kiai yang menggeluti dunia tasawuf. Meski begitu, kiai yang miliki motto “tiada hari tanpa membaca” ini telah melahirkan banyak karya yang berbobot. Tak terkecuali Manahij al-Amdad yang ditulisnya sebagai penjabaran dari salah satu kitab karangan Syekh Zainuddin al-Malibari dari India.

Syekh Ihsan al-Jampesi juga merupakan seorang yang gemar terhadap pertunjukan wayang. Bahkan, kegemarannya di masa muda menonton wayang berteman kopi dan rokok sempat membuat keluarganya khawatir jika ia terlibat dalam permainan judi. Dan kekhawatiran itupun terjadi. Tak hanya membenarkan ketakutan tersebut, ia justru sangat ahli memainkannya. Sementara segala nasihat yang disampaikan sang KH. Dahlan tidak mempan sama sekali.

Hingga pada akhirnya, KH Dahlan yang merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Jampes mengajaknya ziarah ke makam KH. Yahuda yang juga masih ada hubungan kerabat. Di peristirahatan tersebut KH. Dahlan bin Saleh memohon pada Llah Taala supaya anaknya mendapat hidayah dan menghentikan kebiasaan buruknya. Sang ayah khawatir jika judi akan membuat putranya berumur pendek dan berikan dampak buruk bagi masyarakat.

Pada suatu malam setelah ziarah tersebut, Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik yang sekarang dikenal luas sebagai ulama sufi ini mendapati mimpi didatangi oleh kakeknya. Sang kakek membawa sebuah batu besar yang siap dilemparkannya kapan saja. Seraya menasihati Syekh Ihsan muda supaya menghentikan kebiasaan berjudinya. Jika tidak, maka batu besar tersebut akan dilemparkannya ke kepalanya.

Syekh Ihsan yang dikenal bandel hingga dijuluki dengan “bakri” ini menyanggah. Bahwa tidak ada urusan antara keduanya mengenai terus-berhentinya ia bermain judi. sekonyong-konyong, sang kakek melemparkan batu besar tersebut tepat di kepala Syekh Ihsan selagi muda hingga pecah. Kejadian dalam mimpi tersebut sontak membuatnya terbangun dan langsung mengucap istighfar. Itu adalah masa sebelum ia memutuskan untuk memperdalaam agama di pesantren.

Kiai yang juga merupakan pengarang berbagai kitab ini dikenal sebagai sosok yang meyantri di berbagai pesantren. Utamanya pesantren-pesantren yang ada di pulau Jawa. Di antaranya yakni pesantren di bawah asuhan Kiai Khozin di Pare, pesantren di bawah asuhan Kiai Ahmad Dahlan di Semarang. Bahkan di pesantren yang ada di bawah naungan “gurunya para ulama”, yakni Syekhona Kholil atau yang dikenal luas sebagai Mbah Kholil Bakalan.

Ada keunikan yang menonjol antara Syekh Ihsan muda selama menyantri di perlbagai pondok dengan santri lainnya. Ya, ini karena masa muda kiai yang kemudian menulis kitab-kitab penting ini terhitung tidak menyantri di suatu pesantren dalam waktu yang lama. Dengan kata lain, hanya dengan waktu singkat. Namun, seperti juga menjadi karomah (kelebihan) yang dimiliki putra KH. Dahlan bin Sholeh sudah menguasai ilmu yang dimiliki oleh guru-gurunya.

Kelebihan inilah yang sering disebut-sebut jika Syekh Ihsan, kiai nyentrik ini dianugerahi oleh ilmu laduni. Istilah ini tentunya tidak asing bagi kawula yang besar di pesantren. Secara umum, laduni diartikan sebagai ilmu dari Allah Taala. Untuk memerolehnya bisa dilakukan dengan dua cara, yakni melalui tahapan belajar maupun tanpa proses belajar.

Cerita Mbah Moen tentang Syekh Ihsan Jampes

Banyak hal menarik disampaikan oleh kiai-kiai lain maupun masyarakat yang pernah sowan pada Syekh Ihsan Jampes yang lahir tahun 1910 M ini. Salah satunya adalah mengenai fasihnya berbahasa Arab pengarang Shirajut Tholibin ini meki belum pernah pergi ke negeri Arab. Khas atau karakter khusus ini bisa didapati dari kitabnya yang telah diterbitkan dan digunakan sebagai rujukan penting di Timur Tengah.

Seperti yang telah disebutkan sebelummnya, syarah atas Minhajul ‘Abidin karangan Imam al-Ghazali tersebut telah cukup mengharumkan nama Pesantren Jampes. Reputasi Syekh Ihsan pun semakin melejit dan bahkan sempat mendapat penawaran untuk membantu Raja Faruk mengajar di Al-Azhar Mesir. Meski begitu, ulama sufi ini lebih memilih untuk mengabdikan diri di pedesaan yang membesarkannya untuk menyebarkan pendidikan Islam.

Hal menarik pun disampaikan oleh al-Marhum KH. Maimun Zubaer ketika menceritakan sosok ulama dari Jampes, Gampengrejo, Kediri ini. Diceritakan jika semasa kecil Mbah Moen pernah diajak sowan oleh ayahnya pada Kiai Ihsan Jampes. Mbah Moen meyakinkan jika yang dikunjunginya kala itu benar-benar pengarang Shirajut Tholibin yang fenomenal tersebut. Namun, beliau dibuat terkejut ketika mendengar Syekh Ihsan mengaku tidak bisa bahasa Arab.

“Beliau paham dengan bahasa Arab yang ada di dalam kitab-kitab. Namun tidak ahli berbahasa Arab,” tuturnya. Tentu pengakuan yang tidak dipercaya. Mbah Moen kecil kala itu yakin jika pengakuan Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik tersebut hanyalah bentuk tawadhuknya ketika berhadapan sesama kiai. Sebab mustahil rasanya seorang yang ketika beliau yang mengarang kitab berbahasa Arab mengaku tidak pandai berbahasa Arab.

Meski banyak dikenal karena kelebihannnya di bidang ilmu tasawuf, tidak menutup fakta jika beliau juga ahli di bidang ilmu lainnya. Seperti ilmu falak (astronomi), ilmu hadis, fiqih, dan lain sebagainya. Sampai sepeninggalnya kiai yang memberikan pengaruh besar pada Pesantren al-Ihsan Jampes ini, karangan monumentalnya masih terus dipelajari. Hal ini membuktikan jika buah pemikirannya mengenai konsep tasawuf ini diterima bahkan di era modern. simak juga tentang Hasyim Asy’ari dan Fatwa Jihad Ulama

Sedikit paparan mengenai Syekh Ihsan Jampes, kiai nyentrik ini setidaknya akan membantu melengkapi khazanah terkait ulama-ulama besar di nusantara. Kiai yang mendedikasikan diri pada pendidikan agama Islam ini wafat pada 15 September 1952 dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Yakni berada di Desa Putih,  Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Post a Comment for "Syekh Ihsan Jampes, Kiai Nyentrik yang Dikenal Seantero Negeri"