Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Sejarah Perjalanan Sunan Kalijaga yang Perlu Diketahui untuk Menambah Wawasan

 Sejarah Perjalanan Sunan Kalijaga yang Perlu Diketahui untuk Menambah Wawasan. Berbicara mengenai sejarah Indonesia tentunya tidak akan pernah luput dari tokoh ulama atau mendapatkan gelar sunan yang banyak dipercaya masyarakat sebagai orang suci. Yang dimaksud ialah wali songo atau sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara Khususnya Pulau Jawa. Arti dari kata "wali" sendiri adalah orang yang dipercaya atau diberi tugas, sedangkan "songo" adalah sembilan. Sehingga wali songo adalah sembilan wali yang mempunyai tugas untuk menyebarkan ajaran agama Islam ke semua masyarakat. 

Selain itu, juga membawa perubahan terhadap nilai sosial yang lebih baik dan sampai sekarang masih ada. Bahkan dipegang teguh oleh masyarakat tradisional sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Sunan Kalijaga tentunya termasuk sembilan wali yang sudah banyak diketahui masyarakat atau yang biasa disebut dengan nama Raden Said. Untuk lebih tahu sejarahnya perhatikan di bawah ini.

Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga

Sejarah Sunan Kalijaga yang Perlu Diketahui

Masa Kecil Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan anak dari pasangan yang ibunya bernama Dewi Retno Dumilah. Dan ayahnya bernama Wilatikta yang masih mempunyai garis keturunan pemberontak Majapahit yang sangat terkenal atau legendaris, yaitu Ronggowale. Tetapi sebelum mempunyai anak atau sunan Kalijaga belum lahir ia sudah masuk islam. Walaupun begitu, ia dulunya adalah seorang yang kejam dan taklid terhadap Majapahit yang beragama Hindu, seperti menarik pajak dengan tinggi pada rakyat. Saat Sunan Kalijaga masih kecil beliau terang-terangan menentang atau tidak setuju dengan apa yang dilakukan ayahnya sendiri.

Puncak ketidaksetujuannya adalah saat beliau membongkar lumbung Kadipaten yang berisi padi dan membagikannya kepada semua rakyat tuban yang musim kemarau panjang pada saat itu. Atas tindakannya tersebut membuat sang ayah marah sehingga membuatnya mengadakan sidang  untuk mengadili anaknya sendiri atau Sunan Kalijaga. Saat sidang beliau diberi pertanyaan yang berisi kenapa beliau melakukan hal tersebut. Kesempatan itu tentu tidak dilewatinya, kemudian menjawab karena alasan ajaran agama yang tidak setuju jika menumpuk padi atau makanan di lumbung sedangkan rakyatnya mengalami kesusahan.

Dengan pernyataan tersebut membuat sang ayah menganggap Sunan Kalijaga telah menggurui dirinya tentang agama karena memang mempunyai sifat yang angkuh. Kejadian tersebut membuat sunan Kalijaga diusir dari istana Kadipaten dan diperbolehkan kembali ke istana jika beliau bisa menggetarkan tuban dengan bacaan ayat Al-Quran. Yang artinya beliau memiliki banyak ilmu agama islam dan banyak dikenal.

Walaupun telah diusir tidak membuatnya jerah untuk berbuat kebaikan. Beliau masih mengambil makanan dari orang kaya yang tidak mau berbagi yang kemudian dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Saat melakukan hal tersebut beliau menggunakan pakaian yang serba hitam. Pada suatu hari beliau dijebak dengan rampok yang sesungguhnya, yaitu perampok yang mencuri makanan dan memperkosa wanita. Perampok asli tersebut memakai pakaian yang sama dengannya saat mencuri makanan. Tetapi saat ingin menyelamatkan wanita yang ingin diperkosa perampok aslinya berhasil lolos atau lari. Sehingga membuat dirinya yang dikepung rakyat dan diduga sebagai pelakunya sehingga membuat sang ayah mengusirnya sangat jauh karena sangat kecewa.

Sunan Kalijaga Saat Berguru dengan Sunan Bonang dan Asal Namanya

Dengan diusir sangat jauh membuatnya tinggal di sebuah hutan yang bernama Jatiwange dan tetap melakukan kebaikan untuk rakyat yang membutuhkan. Saat itu Sunan Kalijaga memakai nama samaran,  yaitu Brandal Lokajaya. Suatu hari ada seorang berpakaian serba putih yang sedang melintas di hadapannya dan membawa tongkat. Beliau kemudian merebut atau mengambil tongkat tersebut yang menyebabkan orang itu jatuh dan meneteskan air mata. Karena merasa heran membuatnya mengembalikan tongkatnya.

Kemudian orang itu berkata kalau ia menangis bukan karena tongkatnya di ambil melainkan telah membuat rumput mati dan tercabut akibat dirinya jatuh. Kejadian tersebut membuat Sunan Kalijaga tertegun atau tercengang dan beranggapan kalau orang tersebut bukanlah orang biasa. Sehingga membuatnya muncul keinginan untuk belajar kepada orang tersebut. Kemudian orang tersebut memberi amanat kepadanya untuk menjaga tongkat tersebut dan dilarang pergi sampai ia kembali.

Tiga tahun lamanya Sunan Kalijaga tetap menjaga tongkat tersebut yang merupakan punya Sunan Bonang. Sunan Bonang kemudian kembali ke tempat waktu itu dan melihat tongkatnya yang masih ada dan tertancap di pinggir sungai yang masih di jaga Sunan Kalijaga. Semenjak itulah Sunan Bonang mengajaknya ke Tuban untuk belajar atau memperdalam ilmu agama. Kejadian tersebut yang membuat namanya menjadi KaliJaga yang memiliki arti penjaga kali, kali artinya sungai dan jaga artinya menjaga.

Saat Sunan Kalijaga Merindukan Ibunya

Ibunya tidak bersemangat untuk hidup atau tidak memiliki gairah hidup sejak kepergian Sunan Kalijaga. Terlebih lagi saat adipati tuban menangkap perampok aslinya dan membuat ayahnya Sunan Kalijaga sangat menyesal dan selalu menangis karena mengusir anaknya sendiri yang sangat disayangi. Ibunya, yaitu Dewi Retno Dumilah tidak tahu kalau anaknya telah kembali ke Tuban lebih tepatnya ke Sunan Bonang.

Walaupun telah lama tidak bertemu dengan keluarganya atau kedua orang tuanya tidak membuat Sunan Kalijaga merasa rindu terutama pada ibunya. Karena beliau mengarahkan ilmu yang dimiliki sangat tinggi dengan membaca Al-Quran dari jauh ke Istana Tuban tempat ibunya tinggal untuk melepas kerinduannya. Bacaannya tersebar yang sangat merdu membuat istana kadipaten bergetar hingga sampai ke hati kedua orang tuanya.

Tidak sampai di situ, Sunan Kalijaga meneruskan dakwahnya untuk memperluas ajaran agama islam ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Beliau mudah diterima masyarakat karena memiliki sifat arif dan bijaksana yang dimilikinya. Saat di perjalanan beliau di cegat oleh beberapa perampok dan kemudian beliau berkata kalau tidak mempunyai barang apapun yang berharga. Hal tersebut tidak membuat perampok tersebut percaya sehingga tetap melakukan aksinya, yaitu menggeledah. Saat itu ada keinginan untuk membuat perampok tersebut sadar,  menjauhi perilaku tersebut dan kembali ke jalan yang benar.

Saat perampok menyerangnya beliau hanya mengibaskan kain panjang yang ada di pundaknya. Dan membuat perampok terpental. Sehingga membuat pimpinan perampok menyerang dengan pedang dan ingin menancapkan di tubuh beliau. Hal tersebut membuat perampok lainnya ingin melabraknya tetapi saat melompat tiba-tiba ditahan oleh tangan yang halus. Kejadian itu membuat perampok kebingungan dan Sunan Kalijaga menyadarinya yang kemudian menyuruhnya untuk menutup mata dan melihat dengan mata batinnya apa yang terjadi. Mulai saat itu membuat perampok bertobat atau berjalan ke jalan yang tepat dan masuk agama islam.  simak juga tentang sejarah panjang Gus Dur

Membaca atau bercerita mengenai sejarah Sunan Kalijaga tentu tidak akan bosan. Karena ada kejadian yang akan membuat Anda tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh lagi untuk menambah wawasannya. Dengan membaca artikel kali ini membuat Anda mengetahui sejarah dari Sunan Kalijaga yang berperan dalam menyebarkan agama islam.

Post a Comment for "Sejarah Perjalanan Sunan Kalijaga yang Perlu Diketahui untuk Menambah Wawasan"