Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Sejarah Para Wali Di Nusantara Dan Berkembangnya Agama Islam

 Sejarah Para Wali Di Nusantara Dan Berkembangnya Agama Islam - berbicara perihal sejarah para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara tidak pernah memiliki bukti yang jelas. Terlebih naskah-naskah sejarah pada masa awal Islam banyak yang tidak terurus, rusak atau terbawa ke negara lain.

Datangnya Agama Islam di Nusantara dinilai lebih jauh dari semua catatan yang ada, meskipun ada beberapa teori yang saling membantah perihal datangnya Agama Islam di Nusantara. Salah satu teori Gujarat mengatakan dalam naskahnya, Agama Islam datang ke Nusantara pertama kali pada abad ke 13.

Sejarah para wali di Nusantara
Sejarah para wali di Nusantara

Datangnya Islam Ke Nusantara

Datangnya Agama Islam Di Nusantara untuk pertama kali bersamaan dengan datangnya para pedagang Arab ke pelabuhan-pelabuhan yang ada di Nusantara. Para pedagang yang datang tidak hanya membawa dagangan mereka, disela-sela waktu berdagangnya para saudagar dari Arab itu sedikit demi sedikit menyebarkan ajaran Islam kepada para pekerja di pelabuhan. Dari peristiwa inilah Sejarah para wali di Nusantara bermula.

Menurut penuturan yang disampaikan Snouck Hurgronje, Agama Islam masuk pertama kali ke Nusantara melalui para pedagang Gujarat atau India. Namun teori ini sangat terbantahkan lantaran mayoritas penduduk India menganut madzhab Hanafi, sedangkan muslim Nusantara bermadzhab Syafi'ie.

Teori lain yang menyebutkan tentang Sejarah para wali di Nusantara adalah teori dari Buya Hamka. Menurut Buya salah satu catatan kerajaan dinasti Tang menyebutkan, bahwa ada sebuah kerajaan Ho-Ling di pantai utara Jawa yang hendak di serang Da-zi, namun batal karena keadilan ratu Shima. Da-zi sendiri merupakan sebutan orang Arab dari bangsa Tiong hoa.

Dari teori tersebut bisa dikatakan Agama Islam datang pada Abad ke-7, namun perkembangannya tidak pesat. Penyebaran Agama Islam mulai terlihat pesat sejak abad ke-13, yang mana pada abad ini juga kerajaan Islam pertama di Nusantara muncul. Kerajaan Islam pertama tersebut adalah Samudera Pasai yang berada di Sumatera atau Aceh sekarang.

Perkembangan Agama Islam

Pada awal berkembangnya Agama Islam, masyarakat Nusantara waktu itu masih banyak yang menganut agama nenek moyang, Hindu atau Budha. Ketiga agama yang ada di Nusantara tersebut hampir semuanya menganut hukum kasta, yang membagi kedudukan berdasar strata sosial. Sejarah Para wali di Nusantara yang datang membawa ajaran tanpa kasta tentu sangat diminati, terlebih bagi masyarakat kelas ekonomi rendah.

Para wali menyebarkan dakwahnya dengan cara menarik hati masyarakat, tidak memaksa namun menggoda. Para penyebar Agama Islam di Nusantara yang paling terkenal adalah wali songo, wali songo sering juga disebut pilar pendiri Agama Islam di pulau Jawa. Hampir semua wali songo berasal dari daerah Arab, sehingga bisa dipastikan niat utama kedatangan mereka ke bumi Nusantara tidak lain adalah untuk menyebarkan Agama Islam.

Selama proses penyebaran Agama Islam di Nusantara Sejarah para wali Di Nusantara banyak meninggalkan kisah-kisah hebat. Meski cara dakwah para wali terkesan dengan kelembutan, namun ternyata banyak sekali orang-orang jahat yang mampu mereka kalahkan, dan akhirnya malah ikut menjadi murid mereka. Para Wali yang ada di Nusantara banyak menyimpan rahasia, yang bahkan bisa dikatakan mereka memiliki kemampuan yang tidak masuk Akal.

Kisah Pembangunan Masjid Demak

Kisah pembangunan masjid Demak adalah salah satu dari kejadian tidak masuk akal yang terjadi pada masa dakwahnya para wali songo. Konon katanya pembangunan masjid Demak hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari semalam, dimulai sehabis Isya hingga masuk waktu subuh. Masjid ini dibangun oleh Raden Patah dan para wali songo yang saling berbagi tugas.

Dalam sejarah para Wali di Nusantara dikatakan ada empat orang wali yang mendapat tugas membuat tiang masjid, ke empat wali tersebut harus memasang tiang pada ke empat penjuru mata angin sebagai simbol teladan di segala arah. Di bagian barat ada tiang yang dibangun sunan Bonang, Barat daya Sunan Gunung Jati, bagian Tenggara sunan Ampel. Satu lagi adalah tiang bagian timur laut yang harus dibangun oleh Sunan Kali Jaga.

Ada sebuah kisah menarik dalam pembagian tugas ini. Ketika semua tiang sudah dibangun oleh para sunan sesuai tugasnya masing-masing, Sunan Kali Jaga datang terlambat sehingga kayu untuk membangun tiang hanya tinggal sisa-sisa. Sunan Kali Jaga yang terkenal cerdas menyambungkan semua sisa kayu yang ada, lantas mengikatnya hingga menjadi sebuah tiang yang kokoh. Secara akal manusia tentu tidak mungkin tumpukan kayu sisa mampu menjadi penopang sebuah masjid.

Masjid agung Demak meski hanya di bangun dalam waktu semalam ternyata tidak dibangun secara asal-asalan, Buktinya adalah masjid ini baru sekali mengalami renovasi sejak sejarah para wali di Nusantara mendirikannya. Dengan berdirinya masjid agung Demak sebenarnya ini membuktikan kapasitas ilmu milik wali songo, dengan ke kokohan masjid Demak ada kemungkinan para wali masa itu telah menguasai ilmu arsitektur modern.

Kisah Sunan Ampel Dan Mbah Soleh

Para wali songo yang menyebarkan Agama Islam di Nusantara selain dikenal banyak ilmunya juga memiliki kesaktian yang tidak masuk akal. Dalam agama Islam sendiri kesaktian para wali disebut Karomah, hal ini karena dekatnya mereka dengan Tuhan sehingga memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki manusia lain pada umumnya.

Konon dalam sejarah para wali di Nusantara menceritakan, suatu ketika Sunan Ampel merasa resah karena masjid dalam kondisi kotor. Dalam keresahannya tersebut Sunan Ampel berseloroh, “Seandainya mbah Soleh masih hidup, Masjid ini pasti tidak mungkin kotor.” Mbah Soleh sendiri merupakan salah satu murid sunan Ampel yang paling rajin membersihkan Masjid, namun karena usia Beliau meninggal terlebih dahulu.

Sesaat setelah Sunan Ampel berseloroh Mbah Soleh hidup kembali, lantas menjalankan aktivitas membersihkan masjid seperti biasanya. Hal ini tentu membuat heboh, bahkan warga sekitar yang bukan penganut ajaran Islam nyaris tidak percaya. Seiring berjalannya waktu Mbah Soleh meninggal kembali. dan dikubur untuk yang kedua kalinya di pelataran masjid.

Beberapa waktu setelah kematian ke dua Mbah Soleh, masjid kembali terlihat kotor dan sunan Ampel kembali berseloroh dengan ungkapan yang sama. Tak butuh waktu lama Mbah Soleh hidup untuk yang ke tiga kalinya, dan membersihkan masjid seperti biasanya. Kejadian ini terus berulang hingga disebutkan dalam Sejarah para wali di Nusantara, ada sembilan makan milik Mbah Soleh yang semuanya  berada di pelataran Masjid.

Dalam cerita rakyat yang beredar ada dua pendapat mengenai Mbah Soleh, yang hidup dan mati sebanyak sembilan kali. Satu pendapat mengatakan bahwa orang yang datang bukan Mbah Soleh melainkan orang lain yang berbeda,  sementara satu pendapat lagi mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran kelebihan yang dimiliki Sunan Ampel atas penghambaannya kepada Tuhan.

Meski tidak ada bukti catatan yang jelas mengenai Sejarah Para Wali Di Nusantara, namun jika berminat untuk mengkaji maka cerita yang bersumber dari mulut ke mulut masih banyak jumlahnya.

Post a Comment for "Sejarah Para Wali Di Nusantara Dan Berkembangnya Agama Islam"