Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kisah Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani

Tipsseo.net - Salah satu ulama terkenal di Nusantara adalah Syekh Nawawi Al Bantani. Beliau lahir di Banten, tepatnya di Tanara pada tahun 1813 M. Beliau meninggal dunia pada tahun 1897 M dan dimakamkan satu komplek dengan makam Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. Dengan penyamaran Nawawi Al Bantani, beliaupun dikenal.

Syekh Nawawi Al Bantani merupakan ulama bertaraf internasional yang permah menjadi imam besar di Masjidil Haram. Beliau masyhur dengan kitab-kitabnya yang berjumlah sekitar 115 kitab. Beliau adalah ulama yang menekuni di berbagai bidang pengetahuan, seperti: fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. simak juga tentang Karamah Agung Kiai Abdul Hamid

Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani
Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani 

Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani di Universitas Al-Azhar

Syekh Nawawi Al Bantani sebagai ulama berintelektual tinggi pernah diundang untuk menghadiri diskusi panel di Universitas Kairo, Mesir pada 1870-an. Beliau mendatangi acara tersebut bersama seorang muridnya, yakni Muhammad Yusuf. Di tempat inilah Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani dilakukan.

Kisah ini kemudian ditulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri dalam salah satu bukunya. Bahwa dalam kegiatan yang digelar di Universitas Kairo, Syekh Nawawi Al Bantani menyuruh Muhammad Yusuf untuk bertukar pakaian dengan Muhammad Yusuf. Hal ini bertujuan untuk mengecoh orang-orang.

Muhammad Yusuf nampak seperti alim yang sangat dihormati dengan mengenakan pakaian gurunya. Sementara itu, Syekh Nawawi Al Bantani yang mengenakan pakaian dari muridnya yang khas jawa dan terlihat sederhana.

Tak berhenti mengecoh dengan bertukar pakaian, Syekh Nawawi Al Bantani memerintahkan muridnya untuk menyampaikan pidato. Alhasil, ketika masuk pada forum diskusi, semua orang menyambut Syekh Nawawi Al Bantani palsu dengan penuh hormat. Semua orang termasuk pemuka ulama mencium tangan Syekh Nawawi Al Bantani palsu sebagai bentuk penghormatan.

Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani dilakukan dengan Muhammad Yusuf. Ia yang sedang menyamar itupun dipersilakan duduk pada suatu tempat khusus. Sedangkan, Syekh Nawawi Al Bantani tidak ditawari tempat duduk. Pada akhir pidato, Muhammad Yusuf mengatakan kepada seluruh hadirin bahwa kondisinya sedang tidak baik.

Alhasil, Muhammad Yusuf meminta kepada Syekh Nawawi Al Bantani yang sedang menyamar untuk melanjutkan pidato atas namanya. Syekh Nawawi Al Bantani pun segera naik ke podium dan menyampaikan presentasi. Mendengar pidato yang disampaikannya, hadirin pun terkagum-kagum.

Sehingga, salah seorang hadirin ada yang mengatakan bahwa betapa hebatnya Syekh Nawawi Al Bantani. Pidato oleh muridnya saja sampai membuatnya kagum, maka ia membayangan bagaimana luar biasanya Syekh Nawawi Al Bantani.

Menjadi Imam Besar di Masjidil Haram

Syekh Nawawi Al Bantani dikenal oleh ulama-ulama besar di berbagai penjuru dunia, sebab menjadi imam besar di Masjidil Haram,. Tidak hanya terkenal di Mekkah, Syekh Nawawi Al Bantani juga dikenal di Mesir, Turki, Suriah, hingga Hindustan.

Selain dikenal dengan Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani, beliau juga dikenal sebagai pengajar. Beliau mengajar di halaman rumahnya di Mekkah, dengan jumlah murid pada awalnya cuma puluhan. Namun demikian, murid Syekh Nawawi Al Bantani semakin banyak jumlahnya. Syekh Nawawi Al Bantani merupakan cendekiawan yang ahli di berbagai bidang, seperti: tauhid, fiqih, tasawuf, dan tafsir.

Nasionalisme Syekh Nawawi Al Bantani

Sekitar tahun 1828, Syekh Nawawi Al Bantani pulang ke Banten setelah tiga tahun berada di Mekkah. Di daerahnya, Syekh Nawawi Al Bantani melihat praktik ketidakadilan dan kesewenangan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Syekh Nawawi Al Bantani pun bertekad untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Beliau melakukan dakwah mengelilingi Banten dan menularkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Hingga, gerak-gerik dari Syekh Nawawi Al Bantani diketahui oleh pihak Belanda. Syekh Nawawi Al Bantani sampai dilarang untuk menyampaikan khutbah di masjid-masjid.

Pemikiran Penting Syekh Nawawi Al Bantani

Syekh Nawawi Al Bantani berperan penting dalam membangun konsepsasi kemerdekaan kepada masyarakat. Beliau adalah ulama yang menenantang kerasa praktik kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh Belanda.

Tidak hanya piawai dalam penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani, beliau juga piawai dalam pemikiran. Syekh Nawawi Al Bantani mempengaruhi komunitas Al-Jawwi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air. Agar para muridnya turut serta menyumbangkan pemeikirannya demi kemajuan masyarakat Indonesia.

Meskipun revolusi yang dilakukan oleh Syekh Nawawi Al Bantani tidak secara fisik, beliau melakukan revolusi dengan cara pembinaan. Beliau menjalankan dakwahnya untuk menanamkan jiwa nasionalisme kepada masyarakat. Di samping baliau juga memberikan pendidikan dan menumbuhkan semangat juang kepada masyarakat.

Dengan komunitas Al-Jawwi yang dinaunginya, Syekh Nawawi Al Bantani turut berkontribusi dalam mendidik para alumninya agar berintregitas dalam jiwa nasionalisme. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi pihak Belanda.

Untuk membatasi ruang gerak komunitas Al-Jawwi, Pemerintah Belanda sampai mengutus Christian Snouck Hurgronje untuk mangwasi penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani. Ia merupakan seorang penasihat pemerintahan untuk meneliti arah gerak ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas itu.

Karamah Syekh Nawawi Al Bantani

Syekh Nawawi Al Bantani mempunyai banyak keistimewaan baik yang bisa dipahami oleh nalar maupun keistimewaan yang di luar nalar. Beliau mendapatkan karamah dari Allah dengan bukti beberapa kesitimewaan berikut.

Kitab Fenomenal Syekh Nawawi Al Bantani

Syekh Nawawi Al Bantani merupakan ulama yang produktif dalam hal menulis. Banyak karya-karya beliau dalam bentuk kitab. Yang mana kitab-kitab tersebut masih dikaji baik di lingkungan pesantren hingga lingkup kampus sekali pun.

Karya fenomenal berupa kitab tafsir merupakan karamah yang diperoleh Syekh Nawawi Al Bantani. Tafsir karangan Syekh Nawawi Al Bantani ini seolah menerangi jalan bagi mereka yang sedang belajar memahami kalamullah.

Kitabnya tentang masalah fiqih juga ditulis dengan bahasa yang lugas. Sehingga, menerangi jalan bagi mereka yang memperdalam ilmu fiqih. Salah satu kitab fenomenal dari Syekh yang terkenal dengan penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani ini,  membahas tentang fiqih Kasyifah as-Saja.

Telunjuk Bersinar

Syekh Nawawi Al Bantani pernah menggunakan jari telunjuknya sebagai penerang saat beliau mengarang kitabnya. Saat itu dalam perjalanan dengan naik unta. Hal ini bermula saat tidak ada cahaya dalam syuqduf atau rumah-rumahan yang dipasang di punggung unta. Sementara itu, aspirasi sedang muncul di kepalanya.

Saat itu juga, Syekh Nawawi Al Bantani berdoa kepada Allah agar menjadikan telunjuk kirinya menjadi penenerang. Dengan maksud bisa menerangi jari kanannya yang sedang menulis. Adapun kitab yang ditulis saat itu adalah Maraqi al Ubudiyah. Kitab tersebut harus dibayar Syekh Nawawi Al Bantani dengan bekas pada telunjuk kirinya yang tidak hilang akibat menjadi penerang.

Jasad yang Utuh

Keistimewaan Syekh Nawawi Al Bantani tidak hanya terjadi saat beliau masaih hidup. Bahkan sampai beliau meninggal dunia, keistimewaan itu tetap ada. Pada suatu peristiwa penggalian kuburan oleh Pemerintah Arab Saudi, keistimewaan Syekh Nawawi Al Bantani dilihat oleh dunia. Saat melakukan penggalian, mayat Pemerintah Arab Saudi ditemukan utuh. Bahkan tidak ada sedikitpun lecet yang ada dalam jasad tersebut. simak juga tentang Utsman bin Affan

Demikianlah kisah ulama asal Banten, mulai dari kisah penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani, pemekiran dan perjuangan, hingga karamah yang diperoleh Syekh Nawawi Al Bantani.

Post a Comment for "Kisah Penyamaran Syekh Nawawi Al Bantani"