Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kisah Hidup Hingga Wafat Mbah Kholil Dari Bangkalan

 Kisah Hidup Hingga Wafat Mbah Kholil Dari Bangkalan. Mbah Kholil dikenal dengan gelar Syaikhona Kholil. Beliau adalah Seorang ulama dengan ilmu tinggi dan  kharismatik yang memiliki cukup banyak pengikut. Mbah Kholil berasal dari Bangkalan, Madura. Beliau juga dikenal memiliki keistimewaan atau karomah yang dikenal masyarakat luas terutama di Madura. Cerita ini tetap berkembang hingga kini setelah lewat berpuluh tahun beliau wafat.

wafat Mbah Kholil
wafat Mbah Kholil

Masa Muda Mbah Kholil Diisi Dengan Mempelajari Agama Islam

Syaikhona Kholil atau biasa disebut Mbah Kholil, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Gunung Jati. Sejak kecil beliau memiliki sifat senang belajar dan gemar menggali ilmu. Dua di antara ilmu yang banyak beliau pelajari adalah nahwu dan fiqih. Sejak usia belia, Mbah Kholil sudah menimba ilmu di berbagai pesantren. Di antaranya adalah Pesantren langitan di Tuban, Jawa Timur, dan Pesantren Cangaan di Bangil, Pasuruan. 

Kecintaannya dalam menuntut ilmu membuat Mbah Kholil telah mampu menghafal seribu bait ilmu nahwu sejak usia belia. Selain rajin menuntut imu, masa mudanya juga diisi dengan bekerja. Diketahui, beliau pernah bekerja sebagai buruh batik di Keboncandi. Beliau juga pernah menyambi jadi buruh petik kelapa saat menjadi santri di salah satu pesantren di Banyuwangi. Semangatnya ini tetap terjaga hingga wafat Mbah Kholil pada tahun 1925.

Masa Hidup Sebelum Wafat Mbah Kholil Menunjukkan Karomah Yang Dimiliki

Selain dikenal sebagai ulama dengan banyak ilmu agama Islam, beliau juga dikenal memiliki karomah yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Karomah adalah keistimewaan atau hal luar biasa yang terjadi pada seseorang bergelar wali. Kisah mengenai karomah milik oleh ulama kharismatik, umumnya berkaitan dengan pertolongan kepada orang lain. Berikut beberapa di antaranya.

Menolong Orang Dan Memintanya Merahasiakan Hingga Wafat Mbah Kholil

Suatu saat, ada seorang suami yang diminta istrinya untuk membeli anggur sebelum kapal yang mereka tumpangi berangkat. Malangnya, saat kembali dari membeli anggur, kapalnya sudah berangkat dan sang suami tertinggal. Seseorang menyarankan suami itu meminta bantuan pada Mbah Kholil. Ulama besar ini menyetujuinya dengan syarat agar si suami tersebut tidak menceritakan hal ini kepada orang lain hingga wafat Mbah Kholil nantinya.

Suami tersebut menyanggupinya. Akhirnya, suami tersebut secara tiba-tiba berada dalam kapal yang sudah berlayar itu. Dia pun menemui istrinya untuk memberikan anggur yang diminta. Suami tersebut memegang janjinya untuk tidak menceritakan apa yang dialaminya kepada istrinya atau siapa pun. Dia memegang janjinya untuk menyimpan rahasia ini hingga Mbah Kholil wafat.

Menyelamatkan Nelayan

Hingga puluhan tahun setelah wafat Mbah Kholil, orang masih mengenang karomah beliau. Salah satunya adalah ketika beliau menolong nelayan yang kapalnya pecah saat sedang berlayar. Bukan sekadar menyelamatkan seorang nelayan yang sedang terkena musibah, tetapi ada keistimewaan yang sulit dinalar orang awam pada kisah ini. Hal ini disebabkan peristiwa penyelamatan ini terjadi saat sedang mengajar di hadapan para santri.

Dikisahkan, saat itu semua santrinya sedang serius menyimak sang Kiai yang sedang mengajarkan ilmu. Secara tiba-tiba, baju dan sarung yang dikenakan oleh beliau basah kuyup. Seluruh santri di hadapan beliau merasa heran. Namun, beliau hanya diam dan pergi mengganti bajunya. Misteri ini terkuak sebulan kemudian. Nelayan yang ditolong, datang untuk berterima kasih. Jadi saat mengajar, Mbah Kholil juga berada di tempat lain secara bersamaan.

Menyembuhkan Orang Lumpuh Tanpa Disadari

Ada juga cerita karomah yang masih dikenang hingga kini setelah wafat Mbah Kholil, yaitu menyembuhkan orang lumpuh. Kejadian ini cukup unik karena beliau menyembuhkan tanpa disadari oleh orang yang lumpuh tersebut. Saat datang untuk meminta bantuan agar disembuhkan, orang yang lumpuh tersebut malah mendapati Kiai tersebut seolah marah, hingga mengancam akan membacoknya.

Orang yang lumpuh itu pun lari tunggang langgang ketakutan. Beberapa saat kemudian, dia berhenti berlari dan menyadari bahwa kakinya tak lagi lumpuh. Tanpa ia sadari, sikap Syaikhona Kholil yang seolah marah itu akhirnya justru membawa berkah baginya. Akhirnya, kakinya yang lumpuh pun dapat digunakan kembali, bahkan untuk berlari. Sungguh luar biasa kejadian tersebut.

Ditangkap, Kemudian Dilepaskan Lagi Oleh Belanda

Satu lagi kisah karomah yang banyak diceritakan bahkan setelah wafat Mbah Kholil. Beliau juga turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui caranya sendiri yaitu mengajar dan memupuk semangat juang muridnya. Selain itu, Mbah Kholil juga mengizinkan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian para pejuang. Ketika itu, pihak penjajah berhasil mengetahuinya. Akhirnya, Mbah Kholil pun ditangkap dan akan dijebloskan ke dalam penjara.

Anehnya, saat itu banyak kejadian yang sulit dinalar. Salah satunya adalah ruangan tempat beliau ditahan, tidak dapat dikunci. Petugas sudah mencoba berulang, tetapi gagal. Akhirnya, pintu dibiarkan tidak dikunci dan penjagaan pun diperketat. Kemudian banyak murid beliau yang datang ke tempat Kiai ini ditahan. Mereka semua minta agar turut ditahan. Akhirnya, pihak penjajah merasa kewalahan dan membebaskannya.

Murid-Murid Mbah Kholil

Sebagai seorang yang memiliki ilmu dalam agama Islam, Mbah Kholil meneruskan ilmunya dengan mengajarkan ke banyak murid di pesantren. Hingga wafat Mbah Kholil, telah mencetak murid yang juga memiliki peran dalam perkembangan Islam di Indonesia. Empat di antara murid Mbah Kholil adalah KH. Muhammad Ihsan, KH. Romli, KH. Hasyim Asy’ari, dan KH. Muhammad Darwis (keudian berganti nama menjadi Ahmad Dahlan).

Setelah berguru pada Mbah Kholil, Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan disuruh menimba ilmu kepada Kiai Soleh Darat di Semarang. Kemudian keduanya diperintahkan oleh Kiai Soleh Darat untuk belajar ke Makkah. Keduanya berguru dalam kurun beberapa waktu untuk menambah keilmuannya tentang agama Islamn. Sepulangnya dari Makkah, Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebu Ireng di Jombang.

Kiai Hasyim Asy’ari merupakan perdiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama beberapa kiai  lainnya. Salah satu hal yang membuat Kiai Hasyim Asy’ari mantap mendirikan organisasi Islam besar Indonesia ini adalah Mbah Kholil. Diceritakan bahwa setelah diberi tongkat oleh Mbah Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari menjadi semakin yakin untuk mendirikan organisasi Islam tersebut. Setahun setelah wafat Mbah Kholil, Kiai Hasyim asy’ari mendirikan NU.

Mbah kholil meninggal di martajasah, Bangkalan pada tahun 1925. Hingga kini beliau masih dihormati oleh orang-orang di Madura, khususnya. Makam beliau dikunjungi dikunjungi oleh banyak peziarah di setiap waktu. Umumnya peziarah akan membludak di hari-hari keagamaan, seperti hari Lebaran. Biasanya setelah melakukan wisata religi berziarah ke makam beliau, para peziarah akan melepas lelah sekaligus mencicipi kuliner khas Madura di dekat masjid. 

Peziarah yang datang ke makam Mbah Kholil berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tak sedikit peziarah yang datang bersama keluarga sekaligus membawa buah hati. Mereka bertujuan mengenalkan anak-anak pada sosok ulama kharismatik yang dihormati banyak orang. Itulah tadi kisah hidup hingga wafat Mbah Kholil. Keteladanan dalam kegigihannya mencari ilmu patut dicontoh.

Post a Comment for "Kisah Hidup Hingga Wafat Mbah Kholil Dari Bangkalan"