Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Biografi K.H Idham Chalid, Sang Guru Politik Orang NU

 Mengenal dan membaca biografi K.H Idham Chalid mungkin adalah salah satu hal yang harus Anda lakukan. Meski wajah beliau sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, tampaknya banyak yang belum familiar dengan sosok K.H Idham Chalid. Bila Anda pikir Anda tidak tahu sama sekali siapa itu K.H Idham Chalid, coba buka dompet dan amati siapa tokoh yang ada di lembaran uang lima ribu Anda. 

Tak hanya berjasa di bidang politik, beliau juga dijadikan teladan bagi umat Muslim. Atas jasa-jasa Idham Chalid terhadap umat islam dalam dunia politik, beliau pun dijuluki sebagai Guru Politik Orang NU. Sebagai tokoh penting dalam politik dan agama, mengenal kisah beliau adalah hal yang wajib untuk dilakukan.

biografi K.H Idham Chalid
 

Profil K.H Idham Chalid, Sang Guru Politik

Bagi Anda yang belum familiar, K.H Idham Chalid merupakan wakil perdana menteri kabinet Ali Sastroamidjojo II. Sebagai pengingat, kabinet ini merupakan jajaran yang mengurus pembatalan perjanjian Konferensi Meja Bundar yang dinilai banyak merugikan bangsa Indonesia. Kalau begitu, siapakah sosok K.H Idham Chalid dan kenapa bisa mendapat julukan Guru Politik Orang NU?
Biografi K.H Idham Chalid - Masa Kecil 

Pada tanggal 27 Agustus 1921, K.H Idham Chalid lahir di Satui, sebuah kecamatan di Kalimantan Selatan. Beliau merupakan anak tertua dari kelima saudaranya. Ayahnya, H. Muhammad Chalid, adalah seorang penghulu asal Amuntai. Itulah mengapa pada saat usia beliau menginjak enam tahun, keluarganya pindah ke Amuntai dan tinggal di kampung leluhur Ayahnya, Tangga Ulin. 

K.H Idham Chalid tumbuh dan besar menjadi seorang anak yang pintar dan memiliki banyak potensi. Beliau bahkan pernah loncat kelas dan langsung duduk di kelas dua Sekolah Rakyat. Pada masa sekolah inilah, bakat berpolitik K.H Idham Chalid, terutama dalam berpidato, mulai terlihat. 

Beranjak Dewasa

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Rakyat dan Madrasah Ar-Rasyidiyyah, Idham Cholid pun memutuskan untuk masuk ke Pesantren Gontor. Dengan sifatnya yang selalu ingin belajar, Idham Cholid berhasil menguasai lima bahasa sekaligus. Setelah pendidikannya selesai, beliau mampu berbicara mulai dari bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, hingga Perancis.

Keahliannya dalam berbahasa asing mengantarkan Idham Chalid pada banyak kesempatan. Seperti saat melanjutkan pendidikan di Jakarta, banyak penjajah Jepang yang terkesan dengan kefasihannya berbahasa Jepang. Oleh karena itu, Idham Chalid sering diminta menjadi penerjemah pertemuan penjajah Jepang dengan beberapa ahli ulama. Inilah awal mula kedekatan beliau dengan orang-orang Nahdlatul Ulama. 

Awal Karir Politik 

Awal karir politik Idham Chalid dimulai ketika bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan atau SOPIK pada tahun 1947. Berkat keterlibatannya ini jugalah, Idham Chalid ditangkap oleh tentara NICA. Ia ditangkap karena dianggap sebagai dalang pemberontakan. 

Namun, karir politik Idham justru semakin menanjak usai penangkapan dan berakhirnya perang. Beliau kemudian ditunjuk partai Masyumi sebagai wakil Kalimantan di Parlemen Sementara RI. Lalu, saat NU memisahkan diri dari Masyumi, beliau memutuskan bergabung dalam Partai NU dan aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Pada 1952, beliau diangkat sebagai sekretaris jenderal partai. 

Awal karier Idham Chalid di pemerintahan dimulai ketika Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memintanya untuk menjadi wakil pada tahun 1956. Tak hanya itu, pada tahun yang sama beliau juga ditunjuk sebagai Ketua Umum Nahdlatul Ulama. Fakta ini semakin menunjukkan alasan kenapa beliau dijuluki sebagai Guru Politik Orang NU. 

Tetap Bertahan di Dunia Politik

Karir politik Idham Chalid bisa dibilang cukup panjang. Pasalnya, meski Soekarno lengser dan digantikan oleh Soeharto, beliau masih berkiprah di pemerintahan. Idham Chalid menjabat sebagai menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada tahun 1968 hingga 1973. Bahkan, pada 1971 hingga 1977 beliau juga menjabat sebagai ketua DPR/MPR. 

Eksistensi beliau di dunia politik terus berlanjut hingga jabatan terakhir yang diembannya pada tahun 1983, yaitu sebagai ketua Dewan Pertimbangan Agung. Satu tahun setelahnya, tepatnya 1984, posisi Idham Chalid sebagai Ketua Umum PBNU harus berakhir dan digantikan oleh Gus Dur.  

Jasa di Dunia Pendidikan

Selain yang sudah disebutkan di atas, jasa-jasa Idham Chalid juga banyak ditemukan di dunia pendidikan. Jauh sebelum memulai karir politik, Idham Chalid lebih dulu berkecimpung di dunia mengajar. Sekembalinya dari Jakarta, sekitar tahun 1944, Idham Chalid mengajar di Pondok Pesantren Gontor.

Meski sibuk dalam dunia politik dan keagamaan, Idham Chalid selalu memberikan kontribusinya di dunia pendidikan. Beliau merupakan salah satu pendiri Universitas Islam Nusantara. Tak hanya itu, Idham Chalid juga mendirikan sebuah yayasan pendidikan bernama Perguruan Darul Maarif di Jakarta. 

Peran Sang Ayah

Bisa dikatakan, peran sang Ayah, Muhammad Chalid, dalam kehidupan berpolitik dan beragama K.H Idham Chalid sangatlah besar. Muhammad Chalid sendiri dijuluki sebagai mualim atau ulama besar. Berkat kegigihan dan tekad beliau untuk menyebarkan ajaran Islam, banyak warga Dayak yang akhirnya mengucap kalimat syahadat dan memeluk Islam. 

Tak hanya berjuang menyebarkan agama Islam, Muhammad Chalid juga memiliki segudang bakat dan terkenal sangat cerdas. Selain bekerja sebagai penghulu, beliau juga merupakan seorang guru agama, tabib, bahkan pawang buaya. Tak hanya itu, beliau juga mewarisi kepintaran Ayahnya yang diceritakan pintar matematika dan menguasai ilmu bumi. 

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tak heran jika pada akhirnya K.H Idham Chalid tumbuh menjadi sosok yang berjasa untuk bangsa dan agama. Rasanya wajar jika disimpulkan bahwa Muhammad Chalid merupakan tokoh penting dalam biografi K.H Idham Chalid, sang Guru Politik Orang NU. 

Tutup Usia

K.H Idham Chalid wafat di usianya yang menginjak 88 tahun, di Jakarta pada tanggal 11 Juli 2010. Beliau meninggal karena sebuah penyakit yang dideritanya selama kurang lebih 10 tahun. Pada 7 November 2011, K.H Idham Chalid mendapat gelar pahlawan nasional. 

Enam tahun setelahnya, tepatnya pada tanggal 13 Juli 2017, istri Idham Chalid meninggal dunia. Bernama Nyai Haji Mastura, istri dari tokoh nasional tersebut meninggal pada usia 90 tahun.
Istri Idham Chalid meninggal di kediamannya di Jakarta Selatan, tepatnya di kompleks Yayasan Perguruan Darul Maarif. Beliau dimakamkan di Cisarua, Bogor, berdampingan dengan makam K.H Idham Chalid. 

Kisah dan biografi K.H Idham Chalid, sang tokoh nasional yang juga dijuluki sebagai Guru Politik Orang NU ini sungguh menarik disimak. Banyak hal yang bisa dipelajari dari beliau, mulai dari kegigihannya menuntut ilmu, kecintaannya terhadap Islam, hingga keseriusannya dalam berpolitik untuk kemaslahatan umat. Semoga kisah ini bisa dijadikan teladan dan inspirasi Anda di kehidupan sehari-hari.

Post a Comment for "Biografi K.H Idham Chalid, Sang Guru Politik Orang NU"